Opini

Optimalisasi Potensi Maritim dan Kearifan Lokal Melalui Pendidikan Muatan Lokal (MULOK) di Kepulauan Riau

Pendidikan di negara ini membuat peserta didik seakan-akan adalah kelinci percobaan dalam setiap program belajar baru yang ditetapkan. Ganti menteri, ganti sistem belajar itu yang selalu masyarakat katakan karena keresahan dengan alasan kebijakan terbaru yang terkesan dipaksakan. Namun, di balik itu ada yang mesti kita pahami bahwa pergantian kurikulum didasarkan pada perkembangan masyarakat dan IPTEK. Untuk itu mau tidak mau perubahan pasti akan dilakukan dan bukan hanya sekadar kehendak dari pemerintah semata. Keragaman potensi daerah merupakan aset bangsa yang perlu dikembangkan dan dilestarikan demi terwujudnya pembangunan daerah maupun pembangunan nasional. Salah satu upaya nyata mempertahankan keunggulan kompetitif adalah menciptakan sumber daya manusia yang baik melalui sistem pendidikan berkualitas sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang dapat mengembangkan dan mengelola keunggulan komparatif dengan arif dan bijaksana. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengenalan kearifan lokal yang menjadi keunggulan kepada putra putri daerah melalui jalur pendidikan dalam bentuk penerapan kurikulum muatan lokal.

Muatan Lokal (Mulok) merupakan salah satu kegiatan berbentuk pendidikan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki dari masing-masing daerah dengan ciri khas dan potensi serta keunggulan daerah tersebut. Tujuan dari muatan lokal tidak boleh bertentangan dengan tujuam pendidikan nasional. Tujuan muatan lokal adalah untuk memperkaya dan memperluas pendidikan nasional. Karena tujuan muatan lokal hanya untuk menyelaraskan materi yang di berikan sesuai dengan kondisi lingkungannya dan mengoptimalkan sekaligus menanamkan nilai budaya daerah. Kurikulum muatan lokal bertujuan untuk memberikan bekal kepada peserta didik agar memiliki wawasan yang mantap tentang lingkungan dan masyarakat sesuai nilai yang berlaku di daerahnya diharapkan dapat mendukung kelangsungan pembangunan daerah dan pembagunan nasional. Hal ini sejalan dengan pendapat Dewey (Hamid, 2012 hal 18) yang menyatakan  bahwa “kurikulum merupakan penyajian dan pengkajian pengalaman pembelajaran sepanjang masa”. Dewey menegaskan bahwa pembentukan kurikulum muatan lokal harus menekankan kepentingan dan keperluan masyarakat sehingga harus ada kesesuian antara kebutuhan sosial dan proses pembelajaran.

Muatan lokal memberikan bekal bagi peserta didik mengenai kemampuan, pengetahauan, dan keterampilan dari daerah yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun lingkungan masyarakat. Muatan lokal juga dapat di perlukan untuk pelestarian budaya, pengembangan kebudayaan, serta pengubah sikap terhadap lingkungan. Sesuai dengan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi menyatakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) selain memuat beberapa mata pelajaran, juga terdapat mata pelajaran Muatan Lokal yang wajib diberikan pada semua tingkat satuan pendidikan. Muatan lokal sendiri terdiri atas bahasa daerah, kesenian daerah, budaya daerah, adat istiadat, keterampilan dan kerajinan daerah, dan hal lain yang menyangkut dengan daerah itu. Muatan lokal sangat berpengaruh terhadap pola fikir, sikap, serta tindakan agar sersuai dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat daerah. Selain itu juga memberikan kesadaran mengenai masalah-masalah yang terjadi dimasyarakat dan menemukan bagaimana solusi penyelesaiannya. Namun sekarang yang disayangkan adalah penerapan kurikulum yang masih berantakan dan terkesan asal-asalan, mengapa begitu? Karena masih banyak sekolah yang menganggap mata pelajaran muatan lokal sebelah mata. Jika ditinjau lebih jauh lagi justru muatan lokal yang berpotensi Go-National maupun Go-Internasional karena ke khasan yang tidak dimiliki oleh daerah maupun negara lain. Seperti contoh muatan lokal di salah satu sekolah yaitu Bahasa Jepang, untuk apa kita mempelajari bahasa asing sementara kita bisa mempelajari dan memperdalam kearifan lokal daerah kita dan bisa kita perkenalkan ke dunia internasional.

Pengembangan muatan lokal harus lah dengan cara yang profesional yaitu dengan merencanakan, mengelola, maupun melaksanakannya dengan baik. Karena hal ini dapat mendukung pembangunan daerah dan pembangunan nasional. Pengembangan secara profesinal merupakan salah satu tanggung jawab dari pemangku kepentingan (stakeholder). Seperti yang kita ketahui cara profesional itu semakin lama hilang dimakan waktu. Sehingga membuat potensi dan ciri khas daerah mulai terlupakan. Salah satunya yaitu budaya daerah yang kini tergerus oleh zaman karena lunturnya pelestarian dari masing-masing daerah. Lunturnya pelestarian ini disebabkan berbagai aspek baik dari dalam maupun luar daerah itu. Pengaruh dari dalam tersebut ialah kurangnya sosialisasi bersama keluarga, disorientasi kurikulum pendidikan, dan kurangnya kesadaran generasi muda akan budaya daerah. Selain itu ada juga pengaruh dari luar seperti globalisasi, modernisasi yang mendominasi, bahasa asing yang masuk ke berbagai daerah, serta adanya dominasi kultural.

Muatan lokal harus dikembangkan dari potensi daerah. Mengapa demikian? Potensi daerah adalah sumber daya spesifik yang dimiliki suatu daerah.  Tanjungpinang sendiri dikenal dengan Negeri Pantun yang dapat dilihat dari julukan yang disematkan kepada kota Tanjungpinang. Di era millenial muda/mudi seolah olah perlahan melupakan budaya daerah sendiri khususnya pantun. Pantun seharusnya tidak hanya dibacakan diawal mulanya pidato atau pun kata sambutan, juga penggunaannya bukan sekedar pada pengumuman dibaliho-baliho yang ada di tepi jalan. Karena berpantun adalah sebuah keterampilan yang tanpa dilatih tidak mungkin akan mudah dikuasai. Ketidakmampuan masyarakat mengauasi pantun karena kurangnya minat masyarakat mempelajari pantun yang disebabkan oleh tidak adanya tempat untuk mempelajari pantun, dan kurang menguasai budaya daerah sendiri. Sehingga Tanjungpinang yang sebagai Negeri Pantun tetapi masyarakatnya cendrung kurang menguasai pantun.

Sedangkan penduduk Tanjungpinang terkenal dengan mayoritas suku melayu, dimana suku melayu sendiri identik dengam ciri khasnya yaitu berpantun. Selain itu keadaan geografis yang dekat dengan perbatasan negara juga mempermudah budaya asing masuk dan memepengaruhi daerah meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Budaya asing yang masuk ini secara perlahan merubah pola fikir masyarakat, sehingga menimbulkan budaya baru yang tidak sesuai dengan muatan lokal yang ada di masyarakat. Masuknya budaya asing yang menciptkan budaya baru ini juga mempengaruhi minat masyarakat mempelajari pantun. Teknologi juga menjadi pemicu dari sekian banyaknya pengaruh yang ada. Kenapa demikian?, hal itu dikarenakan semakin canggihnya fitur-fitur terbaru yang ada pada gadget/handphone. Sehingga membuat seluruh kalangan masayarakat mengikuti arus perkembangan zaman.

Seiring dengan perkembangan zaman peluang bagi bangsa asing semakin besar untuk mempengaruhi kearifan lokal yang ada sehingga potensi maritime akan tergerus mengikuti arus, karena di pendidikan kita tidak diajarkan tentang potensi daerah sendiri sehingga mudah di manfaatkan oleh bangsa asing atau bahasa kasarnya mudah di bodoh-bodohi, tapi kenyataannya yang diajarkan malah bahasa asing dan pelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan daerahnya. Memang beberapa orang beranggapan mempelajari bahasa asing banyak berpengarunh positif dari segi apapun, tapi yang harus di ketahui potensi daerah merupakan hal yang mutlak dan harus di jaga, karena jika sudah hilang atau dirampas itu akan menjadi cerita dan mitos belaka buat anak cucu kita. Seperti kutipan lagu Rhoma irama “ketika sudah tiada baru terasa” memang tidak terasa dampaknya sekarang, tapi lima sampai sepuluh tahun kedepan baru kita menyadari bahwa potensi maritim dan kearifan lokal kita sangat berpengaruh besar dan itu yang harus kita jaga.  Maka dari itu optimalisasi pendidikan muatan lokal yang harus ditekankan di setiap sekolah seluruh indonesia khususnya Kota Tanjungpinang, sehingga daerah yang memiliki potensi maritim menjadi lebih terkenal dikancah nasional maupun internasional. Contoh lain konsep pengembangan muatan lokal dapat digali dari berbagai potensi, yaitu potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, geografis, budaya dan historis.

Perubahan kurikulum di Indonesia  sudah banyak dilakukan perbaikan secara bertahap demi penyempurnaan kurikulum 2013. Semoga bukan hanya pemerintah yang gencar untuk melaksanakan kurikulum 2013 namun pengajar serta peserta didik juga melaksanakannya dalam proses belajar-mengajar. pendidikan adalah faktor utama yang harus diperbaiki karena pendidikan membentuk sikap peserta didik dalam jangka waktu saat ini maupun masa depan. Di era millenial ini dengan teknologi yang semakin canggih dan budaya asing yang masuk ke berbagai daerah masyarakat diharapkan dapat membuka mata, membuka hati, dan kembali memepelajari muatan lokal yang ada di daerah serta melestarikannya khusunya pantun. Selain itu pemerintah juga harus ikut berkontribusi agar dapat mengambil perannya dengan mengubah orientasi kurikulum pendidikan untuk menyelaraskan antara muatan lokal dan pelajaran wajib, serta antara pendidikan dan Kebudayaan. Diharapkan juga para sastrawan berpartisipasi dalam menghidupkan kembali pantun yang cendrung kurang dikuasai seluruh kalangan masyrakat. Dengan dukungan dari berbagai pihak yang mencintai budaya berpantun, diharapkan harta karun bangsa ini dapat terus dilestarikan.

Harapannya pemerintah maupun masyarakat mampu mengoptimalkan potensi maritim melalui pendidikan muatan lokal, memang tidak mudah untuk melakukan hal itu tapi pemerintah bisa melakukannya secara perlahan, dengan cara  memberikan pelatihan terhadap guru, menetapkan guru sesuai daerahnya, tidak menganti kurikulim dalam waktu yang singkat, menyesuaikan mata pelajaran muatan lokal dengan potensi yang ada di daerah masing-masing, dan lain-lain. Dengan begitu potensi maritim di Kepualauan Riau khususnya Kota Tanjungpinang akan terjaga dan bisa berdampak baik bagi bangsa dan negara. Marilah melestarikan budaya daerah khususnya pantun, untuk kembali membumi, dikenal atau pum diketahui masyarakat, dan terus abadi di tanah bumi pertiwi ini.

 

Oleh: Engesti fedro

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close